GR

Ngaku saja, seringkali kita GR saat tiba-tiba Allah kasih kita uang satu juta, misalnya, dari jalan yang tidak pernah kita duga. Batin kita bicara mungkin ini akibat sedekah 100 ribu yang kita lakukan kemarin. Kita akan berfikir betapa Allah Maha Menepati Janji bahwa Dia akan mengganti minimal 10 kali lipat dari setiap harta yang kita keluarkan di jalan-Nya.

Tapi sebenarnya kita tertipu. Rasa GR kita semestinya tak perlu ada. Iya, kenapa harus GR padahal kita tahu bahwa uang 100 ribu kemarin juga adalah rizki dari Dia. Bahkan peristiwa memberi 100 ribu kemarin adalah juga atas kehendak-Nya juga.

Maka ini sebenarnya penegasan keMaha-Baikan-Nya. Dia setting sedemikian rupa sehingga kita sebagai hambanya seakan-akan ada andil atas rizki yang Dia berikan bertumpuk-tumpuk secara cuma-cuma ini. Alhamdulillah tsumma alhamdulliah.

Advertisements

Syi’ah

Ini terjadi belum  begitu lama. Di sebuah solat Jum’at seorang khotib begitu berapi-api dalam ceramahnya tentang kesesatan Syiah:

Tiba-tiba saja saya berdiri sambil memekikkan takbir dengan suara yang cukup lantang “Allahu akbar!”. Tidak ada selang satu detik takbir saya disambut oleh takbir-takbir yang lain. “Allah akbar!! Allahu akbar!!!”. Sepertinya para jamaah juga merasakan persis seperti apa yang ada dalam dada saya. “Syi’ah!! Syi’ah!! Kalian harus musnah dari muka bumi ini!!! Ajaran kalian sesat dan menyesatkan. Kalian  bukan islam! Kalian kafir!!!” Sang khotib semakin meninggikan suaranya. Kami semakin terbakar. Seluruh jamaah berdiri. Kami bertakbir serentak. Anehnya sayalah orang yang meng-komando-i mereka. Seakan sudah dipersiapkan atau apa, orang yang saya kenal sebagai marbot masjid kemudian menghampiri setiap jamaah membagi-bagikan ikat kepala dengan tulisan “Anti Syi’ah!!”, sebagian yang lain bertuliskan “Syi’ah Kafir!”. Kami kenakan ikat kepala itu. Sekarang kami seperti pasukan yang siap berperang. Darah kami berdesir kencang. Mulut kami tak berhenti takbir, takbir dan takbir. Saya pastikan solat Jum’at saat itu  dibatalkan, mungkin diganti dengan solat Dzuhur nanti di akhir waktu. Sungguh rasa benci kami terhadap si laknatullah Sy’ah tidak bisa terbendung. Semangat kami semakin membuncah. Entah kenapa Syi’ah begitu sangat hina di mata kami. Mereka orang-orang yang tidak pantas masuk sorga. Bagaimana mungkin mereka masuk sorga sedangkan tubuh mereka dibungkus kehinaan. Sorga hanya untuk orang-orang yang mulia.

Saya hampir saja naik keatas mimbar dan mengambil alih posisi sang khotib sebelum tiba-tiba merasakan sepertinya ada orang yang menepuk pundak saya  berulang-ulang: “Mas bangun, Mas. Sudah qomat. Mas!” Dengan terkaget-kaget saya bangkit dari duduk dengan nyawa yang belum terkumpul. Hooooaam, terasa masih sangat ngantuk.

Di Commuter Line 2

Setelah memberikan tempat duduk kita kepada orang lain yang kita anggap layak, misalnya, tidak lantas secara otomatis kita menjadi orang yang paling baik di seantero gerbong. Untuk menjadi sebuah kebaikan, kebaikan tidak berhenti pada tahap perbuatan. Setelah berniat dengan bagus dan merealisasikannya, mengolah hati agar tidak ria (pamer) dan ujub (merasa lebih mulia dari yang lain) adalah hal yang tidak kalah inti. Jika di tahap ketiga ini gagal, maka kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan bagai pepesan kosong. Atau bisa jadi lebih buruk dari itu.

Wallahu a’lam.

Ahlul Bid’ah

Tentu saja kami tak peduli dengan vonis “ahlul bid’ah” yang disematkan oleh sebagian kalangan terhadap kami para pengamal puasa Rojab dan amalan-amalan “bid’ah” lainnnya. Diskusi tentang qunut, teraweh 23 rokaat, maulid, ziarah kubur, tahlilan, dan semacamnya adalah diskusi yang seharusnya sudah kita lewati. Ibarat dalam tingkatan kelas, perdebatan tentang tema-tema diatas adalah perdebatan untuk anak kelas satu SD yang baru masuk sekolah. Orang yang gemar memperdebatkan hal-hal tersebut biasanya levelnya masih pion. Belajar agamanya baru setahun dua tahun. Atau kalaupun ternyata belajar agamanya sudah lama biasanya mereka termasuk ke dalam golongan orang yang memiliki kemampuan memahami yang terlat/lemah.

Nah, untuk orang-orang sedewasa kita semestinya yang kita kedepankan adalah bagaimana berhubungan baik, bukan hanya dengan sesama muslim, melainkan dengan non-muslim pun.

Jangan buang waktu kita untuk memperdebatkan hal yang berkaitan dengan keyakinan. Itu murni urusan masing-masing orang dengan Tuhan. Lebih baik mari gunakan waktu kita untuk bercengkrama dengan keluarga. Oh, kok mendadak aku jadi kangen istri dan anakku di kampung ya. Sedang apa mereka gerangan?

Di Commuter Line

Setelah memberikan tempat duduk kita kepada orang lain yang kita anggap layak tidak lantas secara otomatis kita menjadi orang yang paling baik di seantero gerbong. Tidak juga membuat kita menjadi merasa berhak membenci laki-laki yang masih asyik ‘tidur’ di kursi padahal di depannya ada wanita gemuk yang setengah mati menahan berat tubuhnya sejak beberapa stasiun yang telah lalu. Kemungkinan kita untuk berang kepada laki-laki semacam itu harus didahului dengan prasangka baik yang mantap. Misal, siapa tau dia sudah seminggu tidak makan sehingga kaki-kaki dia yang terlihat sehat itu tidak mampu menopang bahkan sekedar tubuh dia sendiri pun. Atau barangkali dia sedang terkena bisul di seluas kedua telapak kakinya sehingga untuk berdiri seperti orang sehat tidak mungkin. Atau jangan-jangan dia tidak punya kaki. Kita perlu mengeceknya.

Jika prasangka-prasangka baik kita ternyata terbantahkan, berdo’alah agar kita dan keturunan kita tidak dihinakan Tuhan dengan memiliki sifat yang acuh kepada sekitarnya, tidak bisa merasakan apa yang orang lain rasa. Berlindunglah kepada-Nya dari sifat egois. Ajarilah anak-anak kita berbagi kepada sesama. Jika Tuhan memberi kesempatan kita untuk bersedekah, mintalah anak kita yang melakukannya. Sekali-kali ajak anak kita ke pasar. Belilah burung yang banyak. Setelah sampai rumah ajari anak kita untuk melepas mereka. Sampaikan kepadanya bahwa burung juga punya hak untuk bebas. Dan seterusnya.

Oh, betapa indah jika suatu saat nanti anakku yang masih TK merengek: “Ayah, minta uangnya buat beli permen. Nanti permennya mau dede bagiin ke temen-temen.” Pasti saat itu aku akan menangis terharu.

Abdullah Badru Tamam

Seandainya hidup tidak perlu saling menyapa sehingga nama tidak diperlukan, mungkin kita tidak perlu pusing-pusing memikirkan nama untuk setiap anak yang kita lahirkan. Namun, tidak. Kita adalah makhluk sosial yang pasti akan berinteraksi satu sama lain. Lebih dari itu, kita dianjurkan agama untuk memberikan nama yang baik pada anak-anak kita.

Nama adalah do’a dan harapan. Maka kemudian kami menyelipkan do’a dan harapan kepada anak kami yang baru lahir pada tanggal 13 Maret 2015 itu melalui namanya. Abdullah Badru Tamam, demikian kami menamainya. ‘Abdullah’ adalah do’a agar anak kami tahu hal paling mendasar yang harus dia pahami adalah bahwa dia itu ‘Hamba Allah’. Selayaknya hamba, maka apapun yang dia lakukan harus selalu karena alasan perintah Tuannya. Kelak dia harus tahu dan sadar bahwa solat yang dia kerjakan adalah murni karena perintah Allah. Dia zakat, puasa, dan beramal baik lainnya harus karena satu-satunya alasan yaitu diperintahkan oleh Allah. Bukan yang lain. Demikian juga dia harus tahu dan sadar bahwa kelak perbuatan bakti kepada orang tuanya pun adalah memang karena itu diperintahkan oleh Allah. Bukan karena alasan budaya, ikatan biologis, psikologis, atau apapun itu.

Badru Tamam bermakna Bulan Purnama yang Sempurna. Buat saya, yang terasa saat mendengar kata ‘bulan purnama’ adalah kesyahduan. Indah. Tapi jangan tanya apakah anakku ini benar-benar lahir di saat malam bulan purnama atau tidak, karena memang faktanya tidak. Dia lahir di tanggal 23 Jumadil Awal dimana beberapa hari lagi rembulan akan sabit. Apalagi sekarang musim hujan. Seandainya saat itu lahir tanggal 14 pun sepertinya purnama tidak akan terlihat sempurna karena tertutup kabut. Maka benar, bahwa Badru Tamam tidak kami ambil dari asal usul kejadian. Badru Tamam, nama yang indah itu, adalah salah satu julukan untuk manusia termulia yaitu Muhammad SAW. Kami ingin kelak anak kami senang saat sadar bahwa di namanya tercantum nama junjungannya sendiri. Kelak dia akan sering bergumam seakan-akan menyebut-nyebut namanya sendiri padahal dia sedang menyapa orang yang oleh Allah diperintahkan untuk dicintai melebihi dirinya sendiri, Rasulullah SAW. Wallahi, seandainya kelak dia harus ‘gila’ karena kecintaanya itu, kami rela.

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad.

Terakhir, tak henti-hentinya kami berharap doa kepada teman sekalian untuk kebaikan keluarga kami.

Penasaran

Misalkan saja saat ini anda sedang menganggur, entah karena dipecat dari perusahaan lama atau usaha anda mengalami kebangkrutan. Tiba-tiba ada orang datang memberikan bungkusan dan berkata “ini saya dititipi oleh seseorang yang tidak mau menyebut namanya”. Setelah dibuka ternyata isinya uang 50 juta dan secarik kertas bertuliskan “buat modal kerja”. Karena kondisi yang mendesak anda pun menggunakan uang tersebut untuk membuka bisnis. Lambat laun bisnis anda semakin maju, karyawan ratusan, omset milyaran.

Jika itu benar-benar terjadi, kira-kira apa yang akan anda lakukan kepada orang tak dikenal yang memberi anda modal itu? Mungkin nggak kalau anda melupakan begitu saja jasa orang tersebut? Apa hidup anda akan tenang-tenang saja tanpa ada sedikitpun rasa penasaran pada dia? Karena tau anda normal, saya yakin anda akan menjawab: tidak. Anda akan berusaha keras mencari orang yang dulu memberi anda bungkusan uang. Hari-hari anda akan dilalui rasa penasaran, rasa ingin bertemu untuk sekedar mengucapkan terima kasih atau berbuat apapun untuk menebus jasa baik dia.

Kawan, ketahuilah jasa orang tak dikenal diatas tidak ada apa-apanya dengan jasa Nabi Muhammad SAW terhadap kita, umatnya. Beliau telah mengenalkan kita kepada Allah SWT. Itu jasa terbesar yang seandaianya bumi dan langit serta seisinya adalah milik kita dan kita gunakan untuk membalas jasa itu, niscaya tidak akan cukup. Perjuangan dan pengorbanan beliau terhadap kita, Allahu akbar, silahkan baca dan cari tau sendiri. Anda akan menemukan bahwa beliau adalah orang yang paling menyayangi kita bahkan melebihi ibu kita sendiri. Beliaulah satu-satunya orang yang rela mengorbankan jiwa, raga, kehormatan, dan semua yang beliau miliki demi kita. Apa mungkin setelah tau demikian anda sama sekali tidak memiliki rasa ingin bertemu untuk sekedar mengucapkan terimakasih kepada beliau? Serius, tidak ada sedikitpun keinginan memandang wajah orang yang paling berjasa dalam hidup kita itu? Atau minimal, masa iya sama sekali anda tidak penasaran?

Bayi-Bayi Tuhan

Tuhan betapa maha baiknya. Ketika Dia memerintahkan kita untuk berbakti kepada orang tua, Dia memodali kita dengan hati yang secara alami mempunyai rasa sayang dan hormat kepada orang tua sehingga dapat dengan mudah kita menjalankan perintah-Nya tersebut. Ketika Tuhan melarang kita memakan makanan yang haram, secara jelas Dia menunjukkan keburukan-keburukan yang ditimbulkan oleh makanan haram sehingga kita mempunyai alasan ilmiah yang membantu kita untuk menjauhi larangan-Nya tersebut.

Demikian juga ketika Tuhan meminta kita untuk mencintai Muhammad SAW lebih dari diri kita sendiri, Dia telah menciptakan Muhammad SAW dengan fisik dan akhlak yang memang sangat pantas untuk dicintai lebih dari diri kita sendiri. Tidak bisa dibayangkan jika Tuhan memerintahkan kita untuk mencintai makhluk yang secara penilaian kita dia tidak menarik, jelek rupa dan perangainya, misalnya. Betapa kita pasti akan sangat berat menjalankan perintah Tuhan tersebut. Tetapi tidak. Tuhan menciptakan Muhammad SAW yang sempurna, dan kita diminta mencintai kesempurnaan. Apa susahnya?

Kita bagai bayi yang sangat dimanja.

Mata Sembab

Seharusnya mata kita sembab tiap pagi karena menghabiskan setiap sepertiga malam terakhir kita untuk menangisi dosa-dosa yang kita lakukan seharian. Bahkan seharusnya mungkin lebih sembab lagi karena ternyata tangisan kita bukan hanya karena dosa, tapi juga karena kita tidak tahu diri untuk berterima kasih kepada Tuhan atas nikmat-nikmat yang dirasakan. Tapi ternyata itu tidak terjadi.

Seandainya saja ketidak-pedulian kita terhadap dosa dan nikmat Tuhan dapat menghapsukan neraka, alangkah nikmatnya. Tapi faktanya tidak. Neraka akan tetap ada walopun kita tidak peduli. Ketidak-pedulian kita tehadap dosa dan nikmat tidak sedikitpun mengurangi kadar panas api neraka. Sedikitpun tidak. Hukum Tuhan akan tetap berlaku walau kita tidak mematuhi.

Maka, untuk kita yang sangat disibukkan dengan banyak hal selain mengingat rentetan dosa dan limpahan nikmat-Nya, sangat disarankan bersiap-siap untuk merasakan api neraka. Dalam sehari sempatkanlah, walau sebentar, pegang-pegang api di atas kompor. Atau bagi yang merokok, mulai sekarang udah mulai coba-coba colokin bara rokok di pipi sendiri atau di manapun bagian tubuh yang dikehendaki. Ini serius. Itu buat latihan. Minimal biar kelak kita nggak kaget dengan neraka. Saya sudah mencobanya sendiri dan ternyata nggak enak, sodara-sodara. Sakit. Tapi ya program latihan harus tetap berjalan. Karena saat itu pasti akan tiba. Pasti.

Kemesraan Pengantin Baru

Dulu tidak jarang saya berfikir negatif dengan para pengantin baru yang sering kali mengumbar kemesraan di social media. Saya rasa teman-teman juga sepakat jika sayang-sayangan yang dilakukan mereka di social media adalah perbuatan yang norak. Saat itu saya menilai bahwasanya mereka adalah orang-orang yang tidak mampu mengontrol euforia menjadi pengantin baru. Tapi tidak dengan sekarang. Setelah menikah ada cara pandang lain yang saya temukan untuk menyikapi kegemaran pengantin baru pengumbar kemesraan.

Bahwa salah satu asas dalam pernikahan adalah publisitas. Asas ini secara formal dilakukan dengan cara mendaftarkan pernikahan di KUA atau Kantor Catatan Sipil dan secara agama dan budaya dilakukan dengan cara menyelenggarakan walimatul ursy (walimahan dan resepsi). Asas publisitas dalam pernikahan dimaksudkan untuk memberikan berita/kabar/pengumuman kepada halayak bahwa si pengantin telah melangsungkan pernikahan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Hal ini agar tidak timbul prasangka buruk dan fitnah dari orang lain saat pasangan pengantin sedang berduaan tanpa mahrom.

Atas hal tersebut akhirnya saya berprasangka baik bahwa tindakan umbar kemesraan yang dilakukan oleh pengantin baru di social media adalah cara mereka menerapkan asas publisitas tersebut di ranah dunia maya. Kemesraan-kemesraan mereka adalah pengumuman kepada masyarakat dunia maya bahwa mereka telah menikah. Tentu saja ini perbuatan yang sangat mulia karena dapat menyelamatkan orang-orang dalam lingkup social media mereka dari dosa-dosa prasangka buruk dan fitnah terhadap mereka.

Namun demikian, alangkah baiknya jika kemesraan yang ditunjukkan oleh para pengantin baru tidak berlebihan agar usaha orang-orang untuk berprasangka baik terhadap mereka – bahwa mereka sedang menerapkan asas publisitas – tidak terlalu berat. 😀